Monday, December 2, 2019

Praktikum Modul 9 : Uji Tekan Beton




Pada praktikum ini akan dibahas mengenai uji tekan beton. berikut hasil dari percobaan kelompok 2 dari modul 9.

Tujuan Percobaan Curing Beton Silinder

Tujuan dari percobaan curing beton silinder adalah membantu berlangsungnya reaksi kimia yang terjadi antara senyawa pembentuk beton.

Alat / Kondisi Curing Beton Silinder

Kondisi dari curing beton silinder adalah
  • Ruangan lembab dengan kelembaban relative tidak kurang dari 95%.
  • Bak yang diisi air kapur jenuh untuk curing.

Prosedur

  1. Siapkan benda uji.
  2. Letakkan benda uji dalam ruangan lembap atau dengan perendaman di dalam air kapur.

Tujuan Percobaan Capping Beton Silinder

Pembuatan capping pada beton dengan belerang atau senyawa capping lainnya. Capping dilakukan dalam rangka mempersiapkan beton silinder untuk pelaksanaan pengujian kuat tekan. Pemberian capping diperlukan untuk memastikan distribusi beban aksial yang merata ke seluruh bidang tekan silinder.

Alat Capping Beton Silinder

  • Cetakan capping yang memiliki ukuran yang sesuai dengan dimensi spesimen.
  • Alat untuk mencairkan belerang yang dilengkapi dengan pemanas api.

Prosedur Capping Beton Silinder

  1. Siapkan serbuk belerang atau senyawa capping, pemanas dengan suhu sampai 130°C (265°F), dan termometer logam untuk memeriksa suhu.
  2. Lelehkan serbuk belerang atau senyawa capping.
  3. Setelah menjadi cair, aduk belerang cair sebelum dituangkan ke dalam cetakan capping.
  4. Tuangkan belerang cair ke dalam cetakan kemudian letakkan beton silinder dengan kedua tangan di atasnya. Pastikan ujung silinder beton sebelum diletakkan dalam cetakan dalam keadaan kering.
  5. Langkah ke-4 harus dilakukan dengan cepat sebelum sulfur cair membeku.
  6. Ketebalan capping harus sekitar 3 mm dan tidak melebihi 8 mm.
  7. Sebelum dilakukan uji kuat tekan, capping harus didiam kan dahulu agar memiliki kekuatan yang sebanding dengan beton.

Tujuan Percobaan Uji Tekan Beton

Tujuan dari percobaan uji tekan beton adalah menentukan kekuatan tekan beton berbentuk silinder yang dibuat dengan dirawat (curing) di laboratorium. Kekuatan tekan beton adalah perbandingan beban terhadap luas penampang beton.

Alat Uji Tekan Beton

Alat yang digunakan dalam uji tekan beton adalah UTM (Universal Testing Machine) berkapasitas 100 ton.

Benda Uji Tekan Beton

Benda yang diuji adalah beton silinder.

Prosedur Uji Tekan Beton

  1. Ambil benda uji dari tepat perawatan.
  2. Letakkan benda uji pada mesin tekan secara sentris.
  3. Jalankan mesin uji tekan. Tekanan harus dinaikkan berangsur-angsur dengan kecepatan antara 4 kg/cm2 sampai dengan 6 kg/cm2 per detik.
  4. Lakukan pembebanan sampai benda uji hancur dan catatlah benda uji beban maksimum hancur yang terjadi selama pemeriksaan benda uji.
  5. Lakukan langkah (a), (b), (c), (d) sesuai dengan jumlah benda uji yang akan ditentukan kekuatan tekan karakteristiknya.

Hasil Uji Tekan Beton

Kuat tekan beton = P/A      
Di mana,
P = beban maksimum, N
A = luas penampang benda uji, mm2
Hasil Pengujian Tekan Beton
Dari tabel 5.1 didapatkan bahwa persentase kuat tekan beton pada hari ke-7 adalah 79,22 kg/cm^2 dan 56,8 kg/cm^2, pada hari ke-14 adalah 148,26 kg/cm^2 dan 144,30 kg/cm^2, dan pada hari ke-28 adalah 181,08 kg/cm^2 dan 186,74 kg/cm^2. Tentu hal ini jauh dari persentase kuat tekan beton yang seharusnya didapatkan yaitu untuk hari ke-7 adalah 65%, hari ke-14 adalah 88%, dan pada hari ke-28 adalah 100%. Hal ini terjadi karena beberapa hal antara lain; Jumlah air pada adonan beton terlalu banyak karena berusaha memenuhi nilai slumpseharusnya jika ditambahkan air maka komponen lainnya seperti agregat kasar, halus, semen juga harus disesuaikan, lalu pada saat curing beton terlambat 1 hari sehingga proses curing kurang maksimal, dan terakhir mungkin saja adalah proses pengadukan yang kurang homogen.

Kesimpulan

Dari beton yang sudah dibuat, kuat tekan beton yang diinginkan yaitu 275 Mpa. Sehingga belum terpenuhi .
Kekuatan beton belum bisa terpenuhi dikarenakan beberapa faktor di antaranya pada saat penambahan air untuk mencapai nilai slump 10 cm seharusnya yang ditambahkan bukan hanya air saja, tetapi komponen material yang lainnya juga. Selain itu, Pada proses curing, beton terlambat 1 hari sehingga proses curing kurang maksimal. Oleh karena itu, sebaiknya kita tepat waktu dalam setiap tahapan-tahapannya termasuk tahapan curing sehingga semua tahapannya berjalan lancar.

Praktikum Modul 8 : Rancangan Campuran Beton





 


 
Pada praktikum ini akan dibahas mengenai campuran beton. Berikut hasil dari percobaan kelompok 2 dari modul 8.

Perancangan Proporsi Campuran Beton (Berdasarkan ACI Committee 211)
Menurut ACI Committee 211 ada beberapa langkah yang harus diperhatikan untuk membuat campuran beton yang ekonomis tetapi memenuhi syarat durabilitas dan kekuatan. Berikut langkah-langkah yang harus diperhatikan untuk merencanakan campuran beton yang akan dibuat.
  • Menentukan Nilai Slump
Nilai slump didapat dari slump test yang dilakukan. Nilai slump bervariasi tergantung pada jenis konstruksi yang ingin dibuat. Sebagai referensi untuk nilai slump dapat dilihat pada tabel 4.1 yang ada di bawah ini.


  • Menentukan ukuran agregat kasar dan agregat halus
Penentuan ukuran maksimum agregat kasar didasarkan dengan struktur yang ingin dibangun. Ukuran maksimum agregat kasar harus lebih kecil atau sama dengan:
  1. 1/5 jarak terkecil antara 2 tepi bekisting
  2. 1/3 tebal plat lantai
  3. 3/4 jarak bersih selimut beton
  4. 2/3 jarak bersih antar tulangan
  • Menentukan Estimasi Kadar Air
Kadar air disesuaikan dengan ukuran slump, ukuran maksimum agregat, dan jenis beton (penambahan udara atau tidak dengan penambahan udara). Kebutuhan air pada campuran dapat dilihat pada Tabel 4.2. sebagai referensi


  • Menentukan Water Cement Ratio
Untuk menentukan Water Cement Ratio diperlukan kuat tekan rata-rata (fm). Persamaan yang digunakan seperti yang terdapat di bawah ini:

fm : Kuat tekan rata-rata
fc’ : Kuat tekan beton yang direncanakan
Sd : Standar Deviasi
Nilai standar deviasi ditentukan dari tempat pembuatan dan kondisi pembuatan. Standar deviasi dapat dilihat pada Tabel 4.3 sebagai referensi. Setelah mendapat nilai kuat tekan rata-rata maka dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai referensi untuk menentukan Water Cement Ratio.

Hubungan Rasio Air-Semen dan Kuat Tekan Beton


  • Menentukan Kadar Semen
Kadar semen ditentukan setelah diketahui rasio air semen dan kadar air. Persamaan yang digunakan untuk menghitung kadar semen adalah :

Ksemen : Kadar semen
Kair : Kadar air
FAS : Rasio air semen
  • Menentukan Estimasi kandungan agregat kasar
Kadar agregat kasar ditentukan pada ukuran maksimum agregat kasar, Modulus kehalusan, dan nilai slump. Standar volume persatuan volume beton agregat kasar dapat dilihat pada tabel 4.5 sebagai referensi. Untuk nilai slump selain 75-100mm, diperlukan faktor koreksi yang dapat dilihat pada tabel 4.6. Setelah didapatkan data dari kedua tabel, maka kadar agregat kasar adalah:

Rancangan campuran beton yang ekonomis bisa didapat dengan menggunakan semaksimal mungkin volume agregat kasar (atas dasar berat isi kering atau dry rodded unit weight) persatuan volume beton. Data eksperimen menunjukkan bahwa semakin halus pasir dan semakin berat ukuran maksimum partikel agregat kasar, semakin banyak volume agregat kasar yang dapat dicampurkan untuk menghasilkan campuran beton dengan kelayakan yang baik.
Volume Agregat Kasar Persatuan Volume Beton untuk Beton

Faktor koreksi untuk nilai slump yang berbeda


  • Menentukan Estimasi Kadar Agregat Halus
Setelah menentukan kadar agregat kasar, yang selanjutnya dilakukan adalah menentukan kadar agregat halus. Terdapat 2 buah metode dalam menentukan jumlah agregat halus, yaitu dengan cara perhitungan berat(weight method) dan cara perhitungan volume absolut (absolut volume method).
a. Metode perhitungan berat
Pada metode perhitungan berat, jika berat jenis beton diketahui, maka berat pasir yang dibutuhkan adalah selisih berat jenis beton dengan berat total air, semen, dan agregat kasar persatuan volume beton. Sedangkan jika data berat jenis beton belum diketahui dapat menggunakan tabel 4.7 untuk menentukan estimasi awal. Jika kadar semen lebih besar atau lebih kecil dari 325 kg/m3, maka berat jenis beton dikoreksi menjadi sebagai berikut:

X’  : Berat Jenis beton koreksi
X   : Berat Jenis beton mula mula
Ws : Kadar semen
Sedangkan jika berat air yang ada lebih besar/kecil dari berat air yang dibutuhkan untuk menghasilkan slump 75-100 mm, maka harga berat jenis beton dikoreksi menjadi sebagai berikut:

X’  : Berat Jenis beton koreksi
X   : Berat Jenis beton mula mula
Ws: Kadar semen
Wa : Kadar Air
Jika berat jenis agregat kasar lebih besar/kecil dari 2.7, maka berat jenis
beton dikoreksi menjadi sebagai berikut:

Selain menggunakan Tabel 4.7., estimasi awal berat jenis beton juga
dapat diperoleh melalui persamaan:

Estimasi Awal untuk Berat Jenis Beton Segar

b. Metode Volume Absolut
Untuk menghitung dengan metode volume absoult, volume pasirdidapat dengan mengurangi volume satuan beton dengan volume totaldari komposisi campuran yang sudah diketahui. Persamaan yangdigunakan adalah:


  • Koreksi Kandungan Air
Kadar masing-masing bahan yang ditentukan pada langkah-langkah sebelumnya masih dalam kondisi SSD. Namun pada nyatanya bahan belum tentu dalam kondisi SSD. Oleh karena itu kadar masing-masing agregat dan air perlu dikoreksi. Berikut rumus yang disediakan.

Kag. kasar SSD : Kadar agregat kasar (kg)
Kag. halus SSD : Kadar agregat halus (kg)
ak : Penyerapan air kondisi SSD agregat kasar
mk : Kadar air kondisi SSD agregat kasar
ah : Penyerapan air kondisi SSD agregat halus
mh : Kadar air kondisi SSD agregat halus
Setelah itu massa air, agregat kasar dan agregat halus dapat diketahui yaitu:


  • Menentukan Masing-masing bahan
Massa masing-masing bahan diperoleh dengan mengalikan kadar dengan volume rancangan beton yang ingin dibuat. Massa kemudian ditambah 15%.

Perhitungan Perencanaan Campuran Beton (Concrete Mix Design)

  1. Menentukan Nilai Slump
Pada pembuatan beton ini slump yang diinginkan telah ditentukan yaitu slump 10 cm.
  1. Menentukan Ukuran Agregat Kasar Maksimum
Pada pembuatan beton ini, ukuran agregat maksimum yang akan digunakan telah diuji, yaitu 20 mm
  1. Menentukan Estimasi Kadar Air
Karena nilai slump yang telah ditentukan adalah 75 – 100 mm, ukuran maksimum agregat kasar yang digunakan adalah 20 mm, dan untuk rancangan campuran beton kali ini tanpa penambahan udara, Kebutuhan air pada campuran dapat dilihat pada Tabel 4.2., maka kebutuhan air pencampur adalah 200 dan udara yang tersekap adalah 2%.
  1. Menentukan Water Cement Ratio
Kondisi pembuatan beton ini dilakukan di laboratorium dengan kondisi pengerjaan kurang baik supaya lebih konservatif. Beton yang direncanakan dibuat dengan tipe K250, yaitu memiliki kuat tekan 24.85 MPa.

Setelah memperoleh kuat tekan rata-rata, maka dapat melihat Tabel 4.4. dapat diperoleh FAS. Namun, karena kuat tekan 24.85 MPa tidak ada pada tabel, maka perlu dilakukan interpolasi.

Maka nilai FAS yang didapat dengan persamaan diatas yaitu 0,613
  1. Menentukan Kadar Semen
Setelah diperoleh FAS dan kadar air, maka kadar semen dapat diperoleh dengan memasukkan ke dalam persamaan berikut.

Setelah memasukkan kadar air sebesar 200 dan FAS sebesar 0.613,maka diperoleh kadar semen adalah 326,264 .
  1. Menentukan Kandungan Agregat Kasar
Volume persatuan volume beton agregat kasar dapat dilihat pada tabel4.5. Karena nilai slump selain 75-100mm, maka faktor koreksi adalah1. Pada praktikum pekan II modul 3 (Analisis Saringan Agregat Halus dan Agregat Kasar), didapatkan nilai modulus kehalusan pasir 3.914 adalah  atau dapat dibulatkan menjadi 3,00, sehingga didapatkan volume agregat kasar (dry rodded) persatuan volume beton adalah 0,60. Selain itu pada praktikum pekan II modul 2 (Pemeriksaan Berat Volume Agregat), didapatkan bahwa berat volume agregat pada keadaan padat adalah 1490 kg/Liter
Dengan diperoleh volume persatuan volume beton, maka kadar dapat diperoleh dengan persamaan (rho agregat kasar = 1460 kg/m^3)

Maka didapat Kadar agregat kasar 894 kg/m^3
  1. Menentukan Estimasi Kadar Agregat Halus
Pada penentuan kadar agregat halus, pertama-tama menentukan estimasi berat beton per m3 beton yang diperoleh dari Tabel 4.7. Untuk ukuran maksimum agregat kasar 20 mm dan tanpa penambahan udara, estimasi berat jenis beton adalah 2355 kg/m3. Kemudian kadar agregat halus dapat ditentukan dengan persamaan

Maka kadar agregat halus diperoleh 896.79 kg/m^3
Koreksi Kandungan Air
  • Perhitungan koreksi massa air dari agregat kasar:

  • Perhitungan koreksi massa agregat kasar:

  • Perhitungan koreksi massa air dari agregat halus

  • Perhitungan koreksi massa agregat halus

Maka kadar agregat kasar adalah : 862.136 kg/m^3
Maka kadar agregat halus adalah : 850.171 kg/m^3
Maka kadar air adalah : 170.005 kg/m^3
Maka kadar semen adalah : 326.624 kg/m^3
  1. Menentukan Massa Masing-Masing Bahan
Beton akan dibuat 6 buah dengan bentuk masing-masing tabung memiliki ukuran tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.


Tabel Mix DesignPerhitungan Komposisi Unsur Beton


Perhitungan Komposisi Unsur Beton

Komposisi Berat Unsur Adukan /m3 Beton

Komposisi Jumlah Air dan Berat Unsur Untuk Perencanaan Lapangan

Komposisi Campuran Beton Kondisi Lapangan /m3

Komposisi Unsur Campuran Beton/Kapasitas Mesin Molen : 0,03M

Data setelah pengadukan/pencampuran

Praktikum Modul 7 : Berat Jenis dan Penyerapan Agregat




Pada praktikum ini akan dibahas mengenai berat jenis dan penyerapan agregat. Berikut hasil dari percobaan kelompok 2 dari modul 7.

Agregat Halus

Referensi

            Referensi yang digunakan adalah
  • ASTM C128 – Specific Gravity and Absorption of Fine Aggregate
  • SNI 03 – 1970 – 1990 – Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus

Tujuan Percobaan

            Menentukan berat jenis (specific gravity) dan penyerapan agregat halus.

Alat dan Bahan Uji

Alat
  1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih.
  2. Piknometer dengan kapasitas 500 gram.
  3. Cetakan kerucut pasir.
  4. Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir.
Benda Uji
Agregat halus dengan berat 1000 gram dan diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau perempatan.

Prosedur Percobaan

  1. Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah baik.
  2. Sebagian dari contoh di masukan dalam metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh.
  3. Contoh agregat halus sebesar 500gr dimasukkan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung-gelembung udara dengan cara menggoyang-goyangkan piknometer, redamlah piknometer dengan suhu air (73,4±3)F selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dan air.
  4. Pisahkan  benda  uji  dari  piknometer  dan  keringkan  pada  suhu (213±130) oF. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (satu hari).
  5. Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4±3) F dengan ketelitian 0,1 gram.

Hasil Percobaan dan Analisis

  • Apparent Specific-Gravity                                   = E / (E + D – C)
  • Bulk Specific-Gravity Kondisi Kering                 = E / (B + D – C)
  • Bulk Specific-Gravity Kondisi SSD                    = B / (B + D – C)
  • Persentase Absorpsi                                             = ( B – E ) / E x 100%
Keterangan:
  • A = Berat piknometer
  • B = Berat contoh kondisi SSD
  • C = Berat piknometer + contoh + air
  • D = Berat piknometer + air
  • E = Berat contoh kering
Penentuan Specific Gravity Agregat Halus
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan didapatkan apparent specific gravity, bulk specific gravity kering, bulk specific gravity pada saat SSD, dan persentase absorpsi air agregat halus berturut-turut adalah 2,73, 2,375,  2,505, 5,485%. Data-data tersebut akan digunakan untuk menghitung koreksi berat agregat halus dan air pada mix design. Berat agregat halus harus dikoreksi karena diasumsikan semua agregat halus dalam kondisi SSD namun pada kenyataannya tidak demikian.

Agregat Kasar

Referensi

Referensi yang digunakan adalah
  • ASTM C127 – Specific Gravity and Absorption of Coarse Aggregate
  • SNI 03 – 1969 – 1990 – Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar

Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan ini adalah menentukan berat jenis (specific gravity) dan penyerapan agregat kasar

Alat dan Bahan Uji

Alat
  1. Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram yang mempunyai kapasitas 5 kg.
  2. Keranjang besi diameter 203,2 mm (8”) dan tinggi 63,5 mm (2,5”).
  3. Alat penggantung keranjang.
  4. Handuk atau kain pel..
Benda Uji
Agregat kasar dengan dengan berat 11 L dalam keadaan kering muka (SSD = Surface Saturated Dry) yang diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau cara perempatan. Butiran agregat yang lolos saringan nomor 4 tidak dapat digunakan sebagai benda uji.

Prosedur Percobaan

  1. Benda uji direndam selama 24 jam.
  2. Benda uji dikeringkan permukaannya (kondisi SSD) dengan menggulungkan handuk pada butiran.
  3. Timbang contoh dan hitung berat contoh kondisi SSD = A.
  4. Contoh benda uji dimasukkan ke keranjang dan direndam kembali di dalam air. Temperatur air dijaga (73,4±3)F dan kemudian ditimbang. Setelah itu, keranjang digoyang-goyangkan di dalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh = B.
  5. Contoh dikeringkan pada temperatur (212-130)F. Setelah didinginkan, contoh kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering = C.

Hasil Percobaan dan Analisis

  • Apparent Specific-Gravity                             = C / ( C – B )
  • Bulk Specific-Gravity Kondisi Kering            = C / ( A – B )
  • Bulk Specific-Gravity Kondisi SSD               = A / ( A- B )
  • Persentase Absorpsi                                       = ( A – C ) / C x 100%
Penentuan Specific Gravity Agregat Kasar
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan didapatkan apparent specific gravity, bulk specific gravity kering, bulk specific gravity pada saat SSD, dan persentase absorpsi air agregat kasar berturut-turut adalah 2,95, 2,72, 2,8 dan 2,84%. Data-data tersebut akan digunakan untuk menghitung koreksi berat agregat kasar dan air pada concrete mix design. Berat agregat kasar harus dikoreksi karena diasumsikan semua agregat kasar dalam kondisi SSD namun pada kenyataannya tidak demikian.

Praktikum Modul 6 : Pemeriksaan Kadar Air Aggregat




Pada praktikum ini akan dibahas mengenai kadar air aggregat. Berikut hasil dari percobaan kelompok 2 dari modul 6.

Referensi

Referensi yang digunakan adalah
  • SNI 03 – 1971 – 1990 – Metode Pengujian Kadar Air Agregat

Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan besarnya kadar air yang terkandung dalam agregat dengan cara pengeringan.

Alat dan Bahan Uji

Alat
  1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 % dari berat contoh.
  2. Oven yang bersuhu sampai (110+-5)C
  3. Talam logam tahan karat berkapasitas cukup besar bagi tempat pengeringan benda uji
Benda Uji
Berat minimum contoh agregat dengan diameter maksimum 5 mm adalah 0,5 kg

Prosedur Percobaan

  1. Talam ditimbang dan dicatat beratnya (W1)
  2. Benda uji dimasukkan ke dalam talam, kemudian berat talam ditambah benda uji ditimbang.
  3. Berat dicatat sebagai W2.
  4. Berat benda uji dihitung dengan persamaan W3= W2 – W1
  5. Contoh benda uji dikeringkan bersama talam dalam oven pada suhu (110 ± 5)C hingga beratnya tetap
  6. Setelah kering contoh ditimbang dan dicatat berat benda uji beserta talam (W4)
  7. Berat benda uji kering dihitung dengan persamaan W5 = W4¬¬- W1.

Hasil dan Analisis Percobaan

Pemeriksaan Kadar Air Agregat Halus
Pemeriksaan Kadar Air Agregat Kasar
Dari percobaan ini, didapatkan bahwa kadar air pada agregat kasar sebesar 4,1 %. Selain itu, didapatkan pula  kadar air pada agregat halus sebesar 7,72 %. Dari data tersebut didapatkan bahwa kadar air agregat halus lebih besar dari pada kadar air agregat kasar. Namun seharusnya yang lebih besar adalah kadar agregat kasar dibandingkan kadar agregat halus karena agregat kasar memiliki pori-pori yang lebih besar dibandingkan agregat halus dan pada kenyataan mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan kadar air agregat halus lebih besar dibandingkan agregat kasar yaitu hal ini juga bisa disebabkan oleh kadar air awal agregat. Pada saat diambil, agregat kasar terletak pada tempat yang terpapar sinar matahari secara langsung. Hal ini, memungkinkan terjadinya pengeringan. Karena pori-pori agregat kasar lebih besar dibanding agregat halus sehingga terjadi perbedaan laju penguapan di mana penguapan agregat kasar lebih besar. Karena hal tersebut, kadar air awal agregat kasar sudah lebih kecil daripada kadar agregat halus.
Kesimpulan
  1. Kadar air pada agregat kasar sebesar 4,1 %.
  2. Kadar air pada agregat halus sebesar 7,72%.
  3. Kadar air agregat halus lebih besar dari pada kadar air agregat kasar karena adanya perbedaan luas dan laju penguapan pada agregat.

Praktikum Modul 5 : Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus



                                 
 

Pada praktikum ini akan dibahas mengenai Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus. Berikut hasil dari percobaan kelompok 2 dari modul 5.

Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah Menentukan besarnya kadar (persentase) lumpur dalam agregat halus.

Alat dan Benda Uji

Alat
  1. Gelas ukur.
  2. Alat pengaduk
Benda Uji
  1. Agregat halus (pasir) secukupnya dalam kondisi lapangan.
  2. Air sebagai bahan pelarut biasa.

Hasil dan Analisis Percobaan

Prosedur Percobaan

  1. Agregat halus (pasir) dimasukkan ke dalam gelas ukur.
  2. Tambahkan air pada gelas ukur guna melarutkan lumpur.
  3. Gelas dikocok untuk mencuci agregat halus (pasir) dari lumpur.
  4. Simpan gelas ukur pada tempat yang datar dan biarkan lumpur mengendap selama 24 jam.
  5. Setelah 24 jam, ukurlah tinggi pasir (V1) dan tinggi lumpur (V2).
  • Tinggi Pasir (V1) =  141 ml
  • Tinggi Lumpur (V2) = 11  ml
  • Tinggi Total (V3) = V1 + V2 = 152 ml
  • Nilai Kadar Lumpur :
Kadar Lumpur            = Tinggi Lumpur/TinggiTotal×100%
= v2/(v1+v2)×100%
= (11 ml)/(152 ml)×100%
= 7,23 %
Pemeriksaan kadar lumpur ini merupakan cara lain untuk menentukan pemeriksaan kadar lumpur selain dengan cara penyaringan bahan lewat saringan No. 200.  Jika dibandingkan dengan peraturan atau ketentuan yang memperbolehkan kandungan lumpur < 5% pada agregat halus untuk pembuatan beton, maka kandungan lumpur pada benda uji agregat halus (pasir) yang digunakan telah melebihi peraturan atau ketentuan yang ada, yaitu 7,23, % (>5%), sehingga benda uji agregat halus (pasir) tidak dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan beton.

Praktikum Modul 9 : Uji Tekan Beton

Pada praktikum ini akan dibahas mengenai uji tekan beton. berikut hasil da...